Apakah Driver Ojek Adalah Tenaga Kerja Dari Gojek?

Akhir-akhir ini Gojek ramai diberitakan baik di media elektronik, media cetak maupun media sosial. Kabarnya ada seorang manager di Jakarta yang mengajukan resign dari perusahaan tempatnya bekerja demi menjadi tukang ojek di Gojek, menurut sang manager tersebut penghasilan di Gojek lebih menggiurkan. Memang sulit dimengerti tapi itulah faktanya.

Pujian dari berbagai kalangan pun datang silih berganti menyambangi pendiri Gojek yaitu Nadiem Makarim, alumnus Harvard Business School tersebut memberikan sumbangsih bagi peningkatan rezeki para tukang ojek yang selama ini dianggap sebagai kaum terpinggirkan. (kabarnya sih jika rajin menarik order, penghasilan seorang tukang ojek di Gojek bisa tembus 10 juta bahkan lebih)

Dengan kehadiran aplikasi teknologi digital Gojek bisa memangkas masa tunggu (ngetem) tukang ojek, karena melalui aplikasinya Gojek akan mendistribusikan ribuan order (orang, barang atau dokumen) dari calon pelanggan ke tukang ojek dari Gojek yang terdekat secara real time dan berkelanjutan. Hal inilah yang membuat waktu tunggu tukang ojek dipangkas sehingga waktu mereka menjadi jauh lebih produktif, dan tentu saja dapat menghasilkan income yang lebih banyak.

Gojek memang merupakan salah satu inovasi teknologi digital yang jenius karena mampu memadukan antara teknologi digital dan sebuah pekerjaan dari kaum terpinggirkan, yaitu tukang ojek.

Bagaimana? Anda tertarik dengan Gojek?. Sebentar… sebentar… sebelum mendaftar jadi tukang ojek di Gojek (atau saingannya yang datang dari Malaysia “Grab Bike”) mari luangkan waktu sejenak untuk memahami bagaimana status hubungan antara perusahaan penyedia aplikasi layanan ojek (Gojek atau Grab Bike) dengan tukang ojek.

Untuk itu, mari kita teguk dulu teh hangatnya, hmm…. wangi aromanya….

Memang banyak yang menganggap bahwa terdapat hubungan kerja antara tukang ojek dengan perusahaan penyedia aplikasi layanan ojek, karena pada praktiknya tukang ojek tersebut sebelum resmi menarik ojek yang menggunakan brand dari perusahaan penyedia aplikasi diwajibkan menitipkan surat berharga seperti ijazah. Memang ada perusahaan yang menerapkan hal tersebut kepada pekerjanya.

Namun, dilihat dari kacamata hukum, ada atau tidaknya hubungan kerja, tidak cukup dilihat dari kewajiban menitipkan ijazah ke perusahaan.

Memang penting untuk menentukan apakah terdapat hubungan kerja antara ‘pekerja’ dengan ‘pengusaha’. Jika tidak ada hubungan kerja maka tidak dikenal sebutan “pekerja” dan pengusaha, yang ada hanyalah “mitra”.

Arti dari “hubungan kerja” adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah (berdasarkan Pasal 1 angka 15 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan/UU Ketenagakerjaan).

Dari arti hubungan kerja tersebut kita bisa melihat ada 3 unsur utama hubungan kerja, yaitu: pekerjaan, upah dan perintah. Namun, sayang sekali UU Ketenagakerjaan tidak menjelaskan lebih jauh mengenai unsur-unsur hubungan kerja tersebut, hal inilah yang menyebabkan para pihak menafsirkan sendiri unsur-unsur hubungan kerja tersebut. (tentu saja penafsiran yang menguntungkan dan sesuai dengan kepentingan masing-masing pihak, hehe…).

Terlepas dari hal itu, jika belajar dari beberapa kasus yang telah terjadi dan putusan Mahkamah Agung maka dapat ditarik kesimpulan mengenai unsur-unsur hubungan kerja, yaitu:

  1. Pekerjaan. Unsur ini terpenuhi jika pekerja hanya melaksanakan pekerjaan yang telah diberikan perusahaan.
  2. Upah. Unsur ini terpenuhi apabila pekerja menerima kompensasi berupa uang tertentu yang besarnya tetap dalam periode tertentu. Bukan berdasarkan komisi atau persentase.
  3. Perintah. Unsur ini terpenuhi apabila pemberi perintah kerja adalah perusahaan. Bukan atas inisiatif pekerja.

Perintah untuk mengantar juga tidak datang dari perusahaan penyedia aplikasi, tetapi dari penumpang atau pelanggan yang ingin barang atau dokumennya diantar, dan tentunya atas persetujuan si tukang ojek.

Sesuai dengan kondisi tersebut, ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan kerja antara perusahaan penyedia aplikasi layanan ojek (baik Gojek maupun Grab Bike) dengan tukang ojek‚Äč. Oleh karena itu, tukang ojek tersebut juga tidak berhak menuntut hak-hak yang lazimnya dimiliki oleh “pekerja” antara lain upah kerja lembur, jamsostek ataupun pesangon jika hubungan kerjasama antara si tukang ojek dan perusahaan penyedia aplikasi layanan ojek berakhir.

Jadi, apakah Anda tetap berminat bergabung dengan Gojek atau Grab Bike demi mendapatkan penghasilan 10 juta rupiah per bulan?.

Keputusan ada di tangan Anda, yang penting tetap tekun bekerja dan berdoa. Semoga sukses! Amin.

Pasti bermanfaat

Tolong bantu untuk dibagikan artikel ini ke yang lain ya…

Terima kasih.

Silahkan isi data berikut untuk mendapatkan konsultasi GRATIS terkait permasalahan hukum dan kontrak dalam usaha dan bisnis Anda

* indicates required
Share :
Be the First to comment.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *