Ingkar Janji Dalam Perjanjian (Wanprestasi)

Tapi janji tinggal janji…

Begitulah kira-kira sepenggal lagu lawas yang pernah dinyanyikan oleh artis cantik Yuni Shara. Mungkin lirik lagu itu cocok untuk mewakili perasaan para  pelaku bisnis yang mana mitra bisnisnya ternyata adalah PHP (Pemberi Harapan Palsu) atau tidak memenuhi apa yang telah dijanjikannya.

Tidak jarang para pelaku bisnis kecewa atau sakit hati tatkala mitra bisnisnya lalai atau tidak memenuhi kewajibannya, itulah salah satu realita dalam dunia bisnis yang sering membuat galau…

Mari kita coba mengulik peristiwa ingkar janji dalam pelaksanaan perjanjian (bahasa gaulnya disebut “Wanprestasi”). Istilah wanprestasi dikenal dalam hukum perdata, yaitu suatu peristiwa atau keadaan dimana salah satu pihak dinyatakan lalai memenuhi kewajibannya untuk melakukan suatu prestasi sebagaimana diperjanjikan. Wujud wanprestasi yaitu:

Tidak melaksanakan apa yang dijanjikannya, contoh: dalam perjanjian disebutkan bahwa supplier akan menyuplai kopi kepada pembeli, tetapi pada kenyataannya ternyata supplier tidak menyerahkan kopi yang dibeli oleh pembeli.

Melaksanakan apa yang dijanjikannya tapi tidak sebagaimana yang dimaksud dalam perjanjian, contoh: dalam perjanjian supplier harus mengirimkan barang yang dijanjikan kepada pembeli yaitu kopi, tapi barang yang dikirim bukan kopi tapi teh (doh! meleset).

Melaksanakan apa yang dijanjikan tapi terlambat, contoh: dalam perjanjian kopi harus dikirim dalam waktu 2 hari kalender sejak tanggal pemesanan pembeli, tapi kenyataannya kopi tersebut dikirim dalam waktu 5 hari kalender sejak tanggal pemesanan pembeli.

Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya, contoh: supplier tidak boleh mengirim kopi yang berkualitas rendah, tapi kenyataannya supplier mengirim kopi yang berkualitas abal-abal.

Seringkali peristiwa wanprestasi menyebabkan berakhirnya hubungan kerjasama antara para pihak dalam perjanjian, dalam hal ini pihak yang dikecewakan tidak segan untuk mengakhiri hubungan kerjasama antara para pihak (sambil mengatakan “elo gue end”).

Jika tidak saling menguntungkan untuk apa lagi dilanjutkan, bukannya hubungan itu harus saling menguntungkan, jika tidak lebih baik berpisah (jiiaahhh…mendadak jadi konsultan cinta). Pada kenyataannya banyak pelaku bisnis yang memegang prinsip tersebut, jika dikecewakan oleh mitranya dengan seketika langsung memutuskan perjanjian yang telah dibuat, bahkan banyak juga yang menuntut ganti kerugian (penggantian biaya, rugi dan bunga/keuntungan yang hilang) atau melaporkan ke Polisi karena merasa telah ditipu oleh mitranya.

Ada kejadian nyata yang pernah dialami oleh seorang penyanyi kondang yang memiliki keindahan ragawi sebut saja namanya Asih (nama samaran). Pada Januari 2010 si artis tersebut mendapatkan tawaran untuk manggung di Makassar  dalam rangka ulang tahun salah satu bank di Makassar, kontrak pun sudah disepakati oleh pihak si artis dan penyelenggara, pihak penyelenggara kemudian melakukan pelunasan nilai kontrak yang telah disepakati. Akan tetapi, pada saat hari H si artis tidak menampakkan batang hidungnya, tentu saja hal tersebut membuat pihak penyelenggara naik pitam.

Adapun alasan dari manajemen si artis bahwa Asih tidak bisa hadir karena lagi ada masalah dengan kekasihnya. Pihak penyelenggara pun tanpa basa basi langsung melayangkan somasi kepada si artis tersebut dan menuntutnya dengan tuduhan penggelapan serta penipuan. Si artis juga dituntut ganti rugi sampai Rp. 2,3 miliar rupiah (wuaduh! pusing pala barbie…).

Sontak saja hal itu membuat si artis cantik tersebut panik dan mengatakan alasan ketidakhadiran dirinya karena sakit. Untuk membuktikan dirinya sakit si artis tersebut kemudian memberikan surat keterangan sakit dari dokter. Kemudian, Asih pun segera berangkat ke Makassar untuk menyelesaikan masalah tersebut, sesampainya di Makassar Asih sempat diperiksa oleh polisi terkait laporan dugaan penggelapan dan penipuan, walaupun akhirnya kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.

Pihak Asih pun kemudian memberikan ganti rugi senilai Rp. 226 juta ditambah dengan tiga kali tampil tanpa bayaran di Makassar. Kasus serupa juga sering dialami oleh selebriti lainnya, dilaporkan ke polisi dengan dugaan penggelapan dan penipuan, serta digugat secara perdata dengan gugatan wanprestasi.

Itulah salah satu contoh kasus dimana pihak dalam perjanjian/kontrak mengingkari kewajibannya alias PHP.

Nah..sebelum dingin kopinya mari diseruput dulu… (ahh…mantap rasa kopinya).

Mungkin muncul pertanyaan dari kamu, “kalau mitra bisnis saya menjadi PHP, apa yang harus saya lakukan?”
Jika mitra bisnis kamu menjadi PHP, maka ambillah beberapa alternatif tindakan berikut:

#1 Layangkan surat somasi.
Cobalah untuk melayangkan surat teguran/somasi terlebih dahulu dengan memberikan tenggang waktu yang wajar dan pantas agar mitra anda dapat memenuhi kewajibannya.

Pertanyaannya berapa lamakah waktu yang wajar dan pantas itu?. Tidak ada patokan yang umum untuk tenggang waktu yang diberikan, semuanya tergantung dari sikon (situasi dan kondisi)

Somasi ini berfungsi untuk menetapkan mitra kamu yang sedang dalam keadaan lalai. Menurut Pasal 1243 KUH Perdata bahwa mitra kamu baru diwajibkan untuk memberikan ganti kerugian (penggantian biaya, rugi dan bunga/keuntungan yang hilang) apabila sudah ditetapkan lalai. Untuk selengkapnya Pasal 1243 KUH Perdata mengatur sebagai berikut:

“Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai di­wajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuat­nya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam teng­gang waktu yang telah dilampaukannya”.

Menurut kebiasaan somasi ini dilayangkan sebanyak 3 kali.

#2 Mengajukan gugatan di Pengadilan.
Jika kamu telah mengirimkan somasi tetapi mitra kamu masih juga mangkir dari kewajibannya, maka kamu dapat melakukan langkah hukum pengajuan gugatan di Pengadilan.

Menurut hukum perdata, ada beberapa kemungkinan gugatan yang dapat kamu layangkan jika mitra bisnismu melakukan perbuatan wanprestasi, yaitu:

– Tetap menuntut pemenuhan perjanjian;
– Pemenuhan perjanjian disertai dengan ganti kerugian;
– Ganti kerugian;
– Pembatalan perjanjian;
– Pembatalan perjanjian disertai dengan ganti kerugian.

Sudah merupakan rahasia umum bahwa dalam proses hukum di Pengadilan biasanya memakan biaya yang banyak (ayam yang hilang dicari, tapi kambing melayang), ditambah lagi dengan prosesnya yang lama dan rumit (disini kadang  saya merasa sedih…). Ini tentunya berbanding terbalik 180 derajat dengan Azas Peradilan yang “sederhana, cepat dan biaya ringan” sebagaimana diatur pada Pasal 2 ayat 4 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. (entah kapan Azas tersebut bisa dilaksanakan, mari tanyakan kepada rumput yang bergoyang).

Seperti itulah langkah hukum yang dapat kamu tempuh jika menghadapi mitra bisnis yang bercap PHP.

Namun, ada kebiasaan pelaku bisnis yang gemar mempolisikan mitranya apabila dianggap sebagai PHP, mungkin menurut mereka itulah jalan terbaik untuk memberikan efek jera kepada mitranya yang menjadi PHP (seperti yang terjadi pada kasus ‘Asih’ di atas).

Ada satu hal penting yang perlu diketahui bahwa sebelum melaporkan kepada Polisi ada baiknya dipahami dulu apakah perbuatan mitra kamu tersebut adalah delik aduan atau bukan. Sebagai info bahwa delik aduan ini hanya bisa diproses apabila ada pengaduan atau laporan dari orang yang menjadi korban tindak pidana. Dalam delik aduan, pihak pelapor dapat mencabut laporannya apabila diantara pelapor dan terlapor telah terjadi suatu perdamaian. Contoh delik aduan, yaitu: pencurian dalam keluarga, pemerkosaan, dan lain-lain.

Biasanya mitra yang menjadi PHP dianggap sebagai penipu atau telah melakukan penggelapan, walhasil… laporan dugaan tindak pidana penipuan atau penggelapan pun akhirnya diterima oleh Pak Polisi.

Tindak pidana penipuan maupun penggelapan merupakan delik biasa, jadi sekali laporanmu telah masuk ke Polisi maka proses hukumnya tetap berjalan walaupun kamu sudah mencabut laporanmu. Walaupun, memang banyak terjadi dimana pihak pelapor dan terlapor telah bersepakat untuk berdamai, maka proses hukum pun dihentikan oleh Polisi, inilah salah satu realitas yang menunjukkan bahwa apa yang kamu pelajari di bangku kuliah ternyata banyak berbeda dengan kenyataan di masyarakat (bahasa kerennya “terjadi ketimpangan antara Das Sein dengan Das Sollen”).

Karena itu, jika kamu berurusan secara perdata sekaligus ada dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh mitra bisnis kamu, maka sebaiknya penyelesaian yang didahulukan adalah masalah perdata terlebih dahulu. (baca juga artikel yang sangat bagus tentang “Inilah Alasan Utama Kenapa Anda Harus Memiliki Kontrak Untuk Melindungi Bisnis Anda Dari Kebangkrutan!”)

Akhir kata saya sampaikan:
Bijaklah dalam menghadapi segala masalahmu.

Semoga bermanfaat…
Jangan lupa, tolong di share ya…
Terima kasih.

Silahkan isi data berikut untuk mendapatkan konsultasi GRATIS terkait permasalahan hukum dan kontrak dalam usaha dan bisnis Anda

* indicates required
Share :
  • 9
    Shares
2 comments

I have been browsing online greater than three hours as of late, yet I by no means discovered any fascinating article like yours. It is lovely price enough for me. Personally, if all webmasters and bloggers made good content as you probably did, the net might be much more helpful than ever before.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *